"Dave ! Coba kamu kerjakan soal nomor empat!" Kata pak guru menyuruhku. "Dave bangun!" Doni mencoba membanggunkanku, Aku yang masi tertidur pulas seakan enggan membuka mata. "Dave! Bangun woi!" " Apaan sih lu?! Ganggu orang tidur aja" aku tidak mempedulikan ucapan Doni. "Mana Dave?! Kok belum maju?! Cepat yang lain sudah menunggu!" Guru berteriak memintaku untuk maju. Mungkin guru tersebut telah habis kesabaran terhadapku. Tiba-tiba dia melemparkanku dengan penghapus. Strike! Dia mengenaiku, sekarang mukaku hitam terkena penghapusnya. "I..i...ya saya pak!" Aku kaget dan langsung bangun. "Kamu tidur?!" "Iya! Eh maksud saya enggak!" Aku menjawab dengan rasa takut yang menusuk. " kalau kamu tidak tidur jadi bisa dong maju ke depan! Kerjakan soalnya cepat!!! Kalau gak bukan cuma kamu yang gak isterhat, tapi satu kelas!" Dia mengancamku. "Mampus gw!" Aku kaget, apa yang ku lewatkan satu jam terakhir. Akhirnya dengan negoisasi, dia memperbolehkan satu kelas isterahat namun tidak untukku. Aku disuruh lari 30 putaran. Memang guru ini tidak punya rasa kemanusiaan. Setelah lari, dengan nafas masi tertinggal, aku ke kantin. Bercanda gurau dengan temanku. Tiba-tiba aku mengingat sosok wanita itu tergambar jelas di benakku. Wanita yang hadir di mimpiku akhir-akhir ini disetiap aku tidur. Siapa dia, kenapa dia begitu jelas ada di kepala ku? Aku mencoba memikirkan. Setiap aku bermimpi, aku selalu menemuinya, wanita yang membuat ku semangat untuk tidur.
Sampai kapan kita bersama 2
Diposting oleh
Yoel Kesatria Kuasa Tarigan
di
14.45
0
komentar
Belajar melepaskan
Kamu mengenalkan namamu begitu saja, uluran tanganmu dan suara lembutmu berlalu tanpa pernah kuingat-ingat. Awalnya, semua berjalan sederhana. Kita bercanda, kita tertawa, dan kita membicarakan hal-hal manis; walaupun segala percakapan itu hanya tercipta melalui pesan singkat— BBM. Perhatian yang mengalir darimu dan pembicara manis kala itu hanya kuanggap sebagai hal yang tak perlu dimaknai dengan luar biasa.
Kehadiranmu membawa perasaan lain. Hal berbeda yang kamu tawarkan padaku turut membuka mata dan hatiku dengan lebar. Aku tak sadar, bahwa kamu datang memberi perasaan aneh. Ada yang hilang jika sehari saja kamu tak menyapaku melalui dentingan chat BBM. Setiap hari ada saja topik menarik yang kita bicarakan, sampai pada akhirnya kita berbicara hal paling menyentuh; cinta.
Kamu bercerita tentang mantan kekasihmu dan aku bisa merasakan perasaan yang kaurasakan. Aku berusaha memahami kerinduanmu akan perhatian seorang cowok . Sebenarnya, aku sudah memberi perhatian itu tanpa kauketahui. Mungkinkah perhatianku yang sering kuberikan tak benar-benar terasa olehmu? Aku mendengar ceritamu lagi. Hatiku bertanya-tanya, seorang wanita hanya menceritakan perasaannya pada cwok yang dianggap dekat.
Aku bergejolak dan menaruh harap. Apakah kausudah menganggap aku sebagai cowok spesial meskipun kita tak memiliki status dan kejelasan? Senyumku mengembang dalam diam, segalanya tetap berjalan begitu saja, tanpa kusadari bahwa cinta mulai menyeretku ke arah yang mungkin saja tak kuinginkan.
Saat bertemu, kita tak pernah bicara banyak. Hanya sesekali menatap dan tersenyum penuh arti. Ketika berbicara di BBM, kita begitu bersemangat, aku bisa merasakan semangat itu melalui tulisanmu. Sungguh, aku masih tak percaya segalanya bisa berjalan secepat dan sekuat ini. Aku terus meyakinkan diriku sendiri, bahwa ini bukan cinta. Ini hanya ketertarikan sesaat karena aku merasakan sesuatu yang baru dalam hadirmu. Aku berusaha memercayai bahwa perhatianmu, candaanmu, dan caramu mengungkapkan pikiranmu adalah dasar nyata pertemanan kita. Ya, sebatas teman, aku tak berhak mengharapkan sesuatu yang lebih.
Aku tak pernah ingin mengingat kenangan sendirian. Aku juga tak ingin merasakan sakit sendirian. Tapi, nyatanya....
Perasaanku tumbuh semakin pesat, bahkan tak lagi terkendalikan. Siapakah yang bisa mengendalikan perasaan? Siapakah yang bisa menebak perasaan cinta bisa jatuh pada orang yang tepat ataupun salah? Aku tidak sepandai dan secerdas itu. Aku hanya manusia biasa yang merasakan kenyamanan dalam hadirmu. Aku hanya cowok yang takut kehilangan seseorang yang tak pernah aku miliki.
Salahku memang jika mengartikan tindakanmu sebagai cinta. Tapi, aku juga tak salah bukan jika berharap bahwa kamu juga punya perasaan yang sama? Kamu sudah jadi sebab tawa dan senyumku, aku percaya kautak mungkin membuatku sedih dan kamu tak akan jadi sebab air mataku. Aku percaya kamulah kebahagiaan baru yang akan memberiku sinar paling terang. Aku sangat memercayaimu, sangat! Dan, itulah kebodohan yang harus kusesali.
Ternyata, ketakutanku terjawab sudah, kamu menjauhiku tanpa alasan yang jelas. Kamu pergi tanpa ucapan pisah dan pamit. Aku terpukul dengan keputusan yang tak kausampaikan padaku, tapi pantaskah aku marah? Aku tak pernah jadi siapa-siapa bagimu, mungkin aku hanya persinggahan; bukan tujuan. Kalau kauingin tahu, aku sudah merancang berbagai mimpi indah yang ingin kuwujudkan bersamamu. Mungkin, suatu saat nanti, jika Tuhan izinkan, aku percaya kita pasti bisa saling membahagiakan.
Aku tak punya hak untuk memintamu kembali, juga tak punya wewenang untuk memintamu segera pulang. Masih adakah yang perlu kupaksakan jika bagimu aku tak pernah jadi tujuan? Tidak munafik, aku merasa kehilangan. Dulu, aku terbiasa dengan candaan dan perhatian kecilmu, namun segalanya tiba-tiba hilang menguap, bagai asap rokok yang hilang ditelan gelapnya malam.
Sesungguhnya, ini juga salahku, yang bertahan dalam diam meskipun aku punya perasaan yang lebih dalam dan kuat. Ini bukan salahmu, juga bukan kesalahannya. Tapi, tak mungkin matamu terlalu buta dan hatimu terlalu cacat untuk tahu bahwa aku mencintaimu.
Aku harus belajar tak peduli. Aku harus belajar memaafkan, juga merelakan.
Diposting oleh
Yoel Kesatria Kuasa Tarigan
di
06.41
0
komentar
Tugas cerpen : Sampai kapan kita bersama?
Sampai kapan kita bersama
Hey yo! Kalau baca surat ini berarti aku udah gak ada lagi disini. Berarti aku udah ga tau dimana sekarang.
Mass In B Minor, ingat? Itu lagu yang selalu aku main kan. Aku ingat canda tawa ,tangisan mu, air mataku, tak ku sesali. pelukan mu, amarahmu, pengorbananmu, takkan ku ganti, semua yang harus kita alami, membuat kita tuk saling mengerti...
Karena aku cinta kamu, karena aku butuh kamu, dan aku ingin kamu, disisiku.
Keangkuhan tak buat mu tuk jadi ragu, sayangi ak. Kaumemebrikan arti berharga disisa hidup ku, aku ga bsa kuat sendri, namun dengan mu itu berbeda, semua kata-kata kita , semua omong kosong yang kita lakukan. aku inget hal gila yang kita lakukan. sialnya, kamu membuat aku tidak ingin meninggalkan mu walau ku tau ku tak bisa. tawa yang kita lakukan , semua yang kamu katakan, masih mengingat di kepala ku, sayang kamu tau kamu itu alasan kenapa aku masih hidup, aku inget saat kamu mengejutkan ku, aku inget saat kita menunjuk bintang-bintang , aku inget janji dan harapan yang kita buat. inget ga kita bernyanyi di bulan desember? ya aku masih inget, janji yang kita buat antra kamu dan aku. aku juga inget apa sepatu mu, aku inget kopi yang slalu kita minum. sesuatu di matamu , membuat ku kehilangan diriku, sesuatu di suaramu membuat ku tenang, kamu tak selalu disini, ketika aku terbangun dari komaku, ak ingin kamu berada disini, tapi aku gak bisa, kamu punya kehidupan sendiri. kamu telah menunjukan jalan pada ku, dan aku yang harus menjalankan nya, kamu datang membawa cinta, aku bisa melihat mu saat kamu ga disini, aku juga bisa merasaknnya saat kamu ga disini, kamu datang dan membuatku tak pernah merasakan kesendirian , mungkin kamu datang membawa kehidupan baru bagiku. aku selalu menunggu mu sampai kamu ada disni disamping ku ,dan jika suatu saat kamu menemukan penggantiku , aku pinta coba lah mengingat kenangan kita sesekali saja, kamu orang yang baik. Makasih ya , salam cinta untukmu, dan semua takkan sama lagi.
Bertanda cindy.
Diposting oleh
Yoel Kesatria Kuasa Tarigan
di
06.41
0
komentar