Sampai kapan kita bersama 2

Kamis, 23 Mei 2013

"Dave ! Coba kamu kerjakan soal nomor empat!" Kata pak guru menyuruhku. "Dave bangun!" Doni mencoba membanggunkanku, Aku yang masi tertidur pulas seakan enggan membuka mata. "Dave! Bangun woi!" " Apaan sih lu?! Ganggu orang tidur aja" aku tidak mempedulikan ucapan Doni. "Mana Dave?! Kok belum maju?! Cepat yang lain sudah menunggu!" Guru berteriak memintaku untuk maju. Mungkin guru tersebut telah habis kesabaran terhadapku. Tiba-tiba dia melemparkanku dengan penghapus. Strike! Dia mengenaiku, sekarang mukaku hitam terkena penghapusnya. "I..i...ya saya pak!" Aku kaget dan langsung bangun. "Kamu tidur?!" "Iya! Eh maksud saya enggak!" Aku menjawab dengan rasa takut yang menusuk. " kalau kamu tidak tidur jadi bisa dong maju ke depan! Kerjakan soalnya cepat!!! Kalau gak bukan cuma kamu yang gak isterhat, tapi satu kelas!" Dia mengancamku. "Mampus gw!" Aku kaget, apa yang ku lewatkan satu jam terakhir. Akhirnya dengan negoisasi, dia memperbolehkan satu kelas isterahat namun tidak untukku. Aku disuruh lari 30 putaran. Memang guru ini tidak punya rasa kemanusiaan. Setelah lari, dengan nafas masi tertinggal, aku ke kantin. Bercanda gurau dengan temanku. Tiba-tiba aku mengingat sosok wanita itu tergambar jelas di benakku. Wanita yang hadir di mimpiku akhir-akhir ini disetiap aku tidur. Siapa dia, kenapa dia begitu jelas ada di kepala ku? Aku mencoba memikirkan. Setiap aku bermimpi, aku selalu menemuinya, wanita yang membuat ku semangat untuk tidur.


Aku berusaha mencari  apa yang sebenarnya terjadi. Sampai suatu ketika, "dave! Ada anak baru lo kabarnya" "buat lo aja deh, kagak peduli gw mah!" Gw coba tidak mempedulikan. "Ohh ya udah kalau gitu. Awas nyesel!"

Belajar melepaskan

Senin, 06 Mei 2013



Kamu mengenalkan namamu begitu saja, uluran tanganmu dan suara lembutmu berlalu tanpa pernah kuingat-ingat. Awalnya, semua berjalan sederhana. Kita bercanda, kita tertawa, dan kita membicarakan hal-hal manis; walaupun segala percakapan itu hanya tercipta melalui pesan singkat— BBM. Perhatian yang mengalir darimu dan pembicara manis kala itu hanya kuanggap sebagai hal yang tak perlu dimaknai dengan luar biasa.
Kehadiranmu membawa perasaan lain. Hal berbeda yang kamu tawarkan padaku turut membuka mata dan hatiku dengan lebar. Aku tak sadar, bahwa kamu datang memberi perasaan aneh. Ada yang hilang jika sehari saja kamu tak menyapaku melalui dentingan chat BBM. Setiap hari ada saja topik menarik yang kita bicarakan, sampai pada akhirnya kita berbicara hal paling menyentuh; cinta.
Kamu bercerita tentang mantan kekasihmu dan aku bisa merasakan perasaan yang kaurasakan. Aku berusaha memahami kerinduanmu akan perhatian seorang cowok . Sebenarnya, aku sudah memberi perhatian itu tanpa kauketahui. Mungkinkah perhatianku yang sering kuberikan tak benar-benar terasa olehmu? Aku mendengar ceritamu lagi. Hatiku bertanya-tanya, seorang wanita hanya menceritakan perasaannya pada cwok yang dianggap dekat.
Aku bergejolak dan menaruh harap. Apakah kausudah menganggap aku sebagai cowok spesial meskipun kita tak memiliki status dan kejelasan? Senyumku mengembang dalam diam, segalanya tetap berjalan begitu saja, tanpa kusadari bahwa cinta mulai menyeretku ke arah yang mungkin saja tak kuinginkan.
Saat bertemu, kita tak pernah bicara banyak. Hanya sesekali menatap dan tersenyum penuh arti. Ketika berbicara di BBM, kita begitu bersemangat, aku bisa merasakan semangat itu melalui tulisanmu. Sungguh, aku masih tak percaya segalanya bisa berjalan secepat dan sekuat ini. Aku terus meyakinkan diriku sendiri, bahwa ini bukan cinta. Ini hanya ketertarikan sesaat karena aku merasakan sesuatu yang baru dalam hadirmu. Aku berusaha memercayai bahwa perhatianmu, candaanmu, dan caramu mengungkapkan pikiranmu adalah dasar nyata pertemanan kita. Ya, sebatas teman, aku tak berhak mengharapkan sesuatu yang lebih.
Aku tak pernah ingin mengingat kenangan sendirian. Aku juga tak ingin merasakan sakit sendirian. Tapi, nyatanya....
Perasaanku tumbuh semakin pesat, bahkan tak lagi terkendalikan. Siapakah yang bisa mengendalikan perasaan? Siapakah yang bisa menebak perasaan cinta bisa jatuh pada orang yang tepat ataupun salah? Aku tidak sepandai dan secerdas itu. Aku hanya manusia biasa yang merasakan kenyamanan dalam hadirmu. Aku hanya cowok yang takut kehilangan seseorang yang tak pernah aku miliki.
Salahku memang jika mengartikan tindakanmu sebagai cinta. Tapi, aku juga tak salah bukan jika berharap bahwa kamu juga punya perasaan yang sama? Kamu sudah jadi sebab tawa dan senyumku, aku percaya kautak mungkin membuatku sedih dan kamu tak akan jadi sebab air mataku. Aku percaya kamulah kebahagiaan baru yang akan memberiku sinar paling terang. Aku sangat memercayaimu, sangat! Dan, itulah kebodohan yang harus kusesali.
Ternyata, ketakutanku terjawab sudah, kamu menjauhiku tanpa alasan yang jelas. Kamu pergi tanpa ucapan pisah dan pamit. Aku terpukul dengan keputusan yang tak kausampaikan padaku, tapi pantaskah aku marah? Aku tak pernah jadi siapa-siapa bagimu, mungkin aku hanya persinggahan; bukan tujuan. Kalau kauingin tahu, aku sudah merancang berbagai mimpi indah yang ingin kuwujudkan bersamamu. Mungkin, suatu saat nanti, jika Tuhan izinkan, aku percaya kita pasti bisa saling membahagiakan.
Aku tak punya hak untuk memintamu kembali, juga tak punya wewenang untuk memintamu segera pulang. Masih adakah yang perlu kupaksakan jika bagimu aku tak pernah jadi tujuan? Tidak munafik, aku merasa kehilangan. Dulu, aku terbiasa dengan candaan dan perhatian kecilmu, namun segalanya tiba-tiba hilang menguap, bagai asap rokok yang hilang ditelan gelapnya malam.
Sesungguhnya, ini juga salahku, yang bertahan dalam diam meskipun aku punya perasaan yang lebih dalam dan kuat. Ini bukan salahmu, juga bukan kesalahannya. Tapi, tak mungkin matamu terlalu buta dan hatimu terlalu cacat untuk tahu bahwa aku mencintaimu.
Aku harus belajar tak peduli. Aku harus belajar memaafkan, juga merelakan.

Tugas cerpen : Sampai kapan kita bersama?

Sampai kapan kita bersama


Sampai Kapan Kita Bersama?

        Aku tidak tahu kapan ini di mulai, mungkin aja saat aku bertemu kamu. Namaku Dave, mungkin ini sebagian dari kisahku. Pertama kali , kala itu aku sedang berjalan-jalan di taman. Taman yang mungkin sudah lama ditutup, ku berjalan sendiri ditengah- tengah keheningan taman itu. Tiba-tiba , aku mendengar gesekan biola memecah keheninangn disini. Kekaguman membuatku menetap lebih lama disini. Diam, suasana kembali tenang… kau duduk di bangku itu dan meletakkan biolamu, ku coba untuk mendekati mu… namun sebelum aku kesana , kau pergi melewati ku begitu saja. Setelah kejadian itu aku selalu ketaman itu dan ketempat itu. Namun kamu ga pernah datang lagi. Pertemuan yang indah dan kehilangan yang menyakitkan. Senyata apakah kamu? Sampai suatu ketika , aku masih menunggu menunggu seseuatu yang tidak pasti… tiba-tiba keajaiban itu datang. Kau muncul lagi dihadapan ku. “kenapa kamu selalu disini?” dia bertanya kepadaku. “oh tidak, tempat ini merupakan tempat favorit ku, kalau aku sedih.” “ohh gitu, ini juga tempat favorit ku, mungkin juga tempat yang paling aku rindukan” celotehnya. “tapi selain itu , aku menunggu kamu” aku memberanikan diri untuk berkata seperti itu. “untuk apa menunggu ku? “tidak ada, aku selalu memperhatikan mu saat kamu main biola, aku kagum dengan permainanmu.” “aku juga selalu ada di balik pohon itu saat kamu duduk disini.” Aku hanya terdiam. “ oh iya, nama kamu siapa?” aku mulai angkat bicara. “ Buat apa tahu namaku?”  “kan tak kenal maka tak sayang” aku hanya tersenyum “ ga usah sayang juga tidak masalah, lagian tidak perlu mengenal namaku untuk menyayangi ku.” Dia menjawab dengan nada datar. “tapi…” “aku ga bakalan lama kok disini, sebentar lagi juga aku pergi” dia tersenyum dan pergi menjauh.
        Awalnya ini hanya persaaan kagum yang tak kupedulikan. Tapi ku rasa perasaan ini berkembang menjadi perasaan takut akan kehilangan mu. Aku mencintaimu secara diam-diam , dan aku ahli dalam melakukan itu. Keesoan harinya aku pergi ke taman itu, dan berharap kamu ada disitu.  “suka lagu itu ya?” “iya.” Jawab nya singkat. “Mass In B Minor bukan sih judulnya, dari Johann Sebastian Bach?” “iya ternyata kamu tau. Lagi sedih ya?” dia bertanya kepada ku “enggak kok.” “ trus ngapain datang , bukannya kamu bilang kamu datang saat kamu sedih saja?” aku terdiam sejenak. “sebenarnya pengen ketemu kamu!” “ohh gitu.” Keheningan kembali terjadi, ditengah-tengah keheningan rasanya aku ingin berteriak ‘aku tak pernah takut untuk mencintai mu walau kamu udah ga disini.’ Dia hanya diam dan masih diam. “jadi nama kamu Cindy Anastasya?” aku memperhatiakan kotak biolanya, “ohh , pasti dari kotak biola ini. Sebenarnya cindy aja, Anastasya itu kembaran ku, dan dia udah disurga.” “HAHAHA!” “ada yang lucu?” dia heran kenapa aku tertawa. “tidak ada,aku hanya senang bisa tau nama mu.” Aku menjawab pertanyaannya. “oh maaf  aku ga tau kalau sodaramu udah gada.” “iya aku tau.” “aku yoel” sambil menyodorkan tangan. “aku kan udah bilang , aku ga lama disini. Bahkan untuk sekedar mengingat  nama mu.” Dia beranjak dari kursi itu dan pergi meninggalkan ku. Ntah apa yang merasuki ku, aku tidak ingin melepaskannya “kenapa pergi ? jangan pergi, jika waktu mu sebentar lagi berikan sebentar saja untukku” . Dia tersenyum , dan berjalan menjauh. Senyum yang selama ini aku cari, aku temukan di wanita ini. Aku merasa sudah memahamimu, aku merasa aku punya kesemepatan untuk bersama mu.
        Sudah enam hari aku rutin datang ke taman itu, Cuma gara-gara wanita itu. “hey!!” aku menyapa dia. Ketenangan terjadi sejenak “tau ga, kenapa aku sering kesini?” dia memulai pembicaraan. “mungkin karena tenang yak an?” “iya, aku suka ketenangan. Membuat ku menghargai sisa-sisa waktu ku disini.” Dia menjelaskan, “oh iya, emang nya mau kemana sih?” aku bertanya, namun dia hanya diam. “kamu sekolah dimana?” aku bertanya, dan dia tetap diam. “kenapa sih kamu ga mau, sedikit memberi tahu aku ?!” aku mulai kesal dengan sikapnya. “iya karena kamu ga perlu tahu.” Wajah datarnya membuat aku tambah kesal. “oh, ku kira kamu nganggap aku ada, seminggu kita bareng di taman ini, menemani kamu , tapi selalu tertutup.” “aku ga pernah minta buat kamu temenin aku.” Dia berkata. Kata-kata itu membuatku sakit, apa tidak berharga aku dimata kamu?. Perlahan aku beranjak meninggalkannya dengan rasa kecewa. “kenapa pergi? Bukannya kemarin kamu yang menyuruh aku membagi waktu ku ke kamu? Tapi kenapa kamu pergi sekarang? Lagian sebentar lagi kok aku bareng sama-sama dengan kamu!” suaranya seakan menimbulkan suasana baru. Aku kembali dan duduk disitu, tiba-tiba saja dia memelukku. “aku sayang kamu Dave! Aku pengen slalu meluk kamu saat aku masih bisa!” “aku juga sayang kamu kok! Ahahhaha! Boleh minta nomor handphone?” “enggak!” “yaudah aku pergi lagi ah!” aku pura-pura pergi. “nyebelin banget sih! Ni 0595649685” dia memberikan nomor handphone nya. “ Kata pepatah ngomong sama orang jelek bikin bosan, tapi kamu tidak ngebosenin kok!” Dia mengejekku “sial kamu awas!”aku mencubit pipinya. Kata sayang yang muncul walaupun belum lama bersama.
       
        Sebulan kami smsan, percakapan setiap malam yang kuselipkan lewat pesan singkat; cinta, kamu membuka mataku dengan cara yang ajaib… Aku gak tau ini disebut apa. Pertemuan yang membingungkan mungkin, kau hilang lagi… kau pergi dan menghilang dengan caramu yang ajaib. Sudah dua minggu aku menunggumu disini. Menunggu sms mu, menunggu canda kita yang dulu kita lakukan, tapi kenapa kamu tak kunjung muncul. Aku mencoba menutup mataku, namun samar-samar wanita yang ku kenal itu muncul lagi dihadapanku. “hallo!” “hey Cindy, duduk dong, kemana aja kamu?” “maaf ,sebenarnya aku bukan Cindy yang kamu kenal, aku Anastasya!” dia berbicara, namun tetap berdiri, dan pertanyaannya sukses membuatku bingung. “Apa?! Bukannya Anastasya udah…” “tidak, ini lah aku , dan asal kamu tau , sebenarnya Cindy selama ini ada dibalik pohon itu! Dia selalu menangis dikursi rodanya saat melihatmu.”Dia menunjuk pohon yang sama saat pertama kali kami bertemu dan sambil menjelaskan. “bohong kamu bohong! Kamu lagi kerjain aku ya? Udah ga lucu!” aku mencoba tidak mempercainya. “tidak ! selama ini aku hanya menggantikan posisi nya untuk bersamamu!” “apa maksudmu?! Jelaskan lah , kau membuat ku bingung!” aku semangkin bingung, aku seperti terjebak diantara lingkaran setan. “dia slalu memperhatikanmu dibalik pohon itu. Dia menyuruh ku untuk berkenalan dengan mu, awalnya aku tidak mau tapi…” “tapi apa?! Cerita yang jelas!” “akhirnya aku mau. Mungkin cara ini, untuk membahagiakannya disisa hidupnya. Ingat waktu dia bilang ‘Dave aku sayang kamu! Aku ingin meluk kamu diwaktu terakhirku’ ingat?” aku merenung seakan baru kemarin dia ucap kata itu. “aku ingat! Aku ingat semua! Jadi sebenarnya yang memelukku itu kamu?” “Bukan itu dia sendiri!” dia menjelaskan. “katamu dia menggunakan kursi roda?” “iya , dan tau kenapa saat kamu ngajak dia jalan dia ga mau? Itu karena dia ga bisa jalan!” aku bingung , aku sedih, kenapa seperti ini? Aku juga bakalan nerima kamu kok. “sebenarnya dia kenapa?” pertanyaan itu menghantui pikiranku. Kenapa kamu pergi sebelum aku bilang cinta. “dia terkena leukemia, mungkin waktunya tinggal satu bulan lagi, awalnya dia bersedih, namun setelah mengenalmu beberapa waktu terakhir, dia kembali seperti Cindy yang dulu, itu alas an kenapa aku mau menuruti permintaanya!” pernyataannya terngiang-ngiang di kepalaku. Leukimia? Kenapa kamu gak pernah beritahu aku. “jadi dia dimana? Jangan bilang dia…” mataku seakan tidak mampu menahan air mata. “Belum! Ini hari terakhirnya di Indonesia , lusa dia akan pergi ke US, untuk berobat” perkataannya membuatku sedikit lebih tenang. “sekarang dia dimana?!” “sebenarnya aku tidak boleh memberitahu ini!” “Tasya ! tolong lah!” air mataku berjatuhan. Dengan penuh pertimbangan Anastasya memberikan alamatnya, tanpa pikir panjang aku langsung menuju rumah sakit.
       
        Saat tiba disana aku melihat dari luar dia terbaring lemah, beberapa orang mungkin temannya, dan mungkin juga keluarganya berkumpul disitu, jujur selama aku kenal dia, aku ga pernah main kerumahnya, atu sekedar untuk kenal teman-temannya. Aku menerobos masuk, semua orang menatapku,semua orang menatapku, kecuali dia! Tatapannya dia buang dan enggan menatap ke arahku. “buat apa kesini?! “ “aku Cuma…” “pergi! Kamu lebih baik sama Anastasya bukan sama aku! “ “kenapa kamu bersembunyi? Kamu ?” hati pilu melihat itu, melebur begitu saja ntah bagaimana. “kamu pergi!” dia berteriak sambil menangis, dan beberapa orang mulai membujukku untuk pergi. “kenapa harus pergi? Bukannya kamu yang dulu melarangku untuk pergi? “ “bukan itu Anastasya!” “enggak Cindy aku itu kamu! Pelukmu!” aku menerobos orang banyak dan memegang tangannya. Dia menangis, aku peluk dia dan tak ingin melepasknnya. Obrolan singkat terjadi “aku sayang kamu Cindy!” “aku juga sayang kamu Dave!” kemudian dia memberikan surat. “ jangan dibuka kalau aku masih ada disni, terus buka ditaman tempat kita biasa ya! Kalau gak ntar nyesel lo!” dia hanya tersenyum , namun aku tahu dia hanya berusaha untuk membuatku lebih tenang. “ Berarti  aku gak akan pernah buka surat ini. Karena kamu gak bakalan pergi kemana-mana kok!” aku bingung , apa yang menimpaku sekarang ini.  Dan senyuman nya masih mengambang disela-sela kesedihan yang terjadi, tanganku yang masih dia gengam , perlahan mulai melepaskan cengkramannya. Nafas terakhir dan senyum terakhir. Dia pergi dengan melepaskan senyuman yang sampai sekarang tidak akan membuatku lupa.
        Dia telah tiada… semua orang disitu menangis. Aku tidak kuat untuk berada disitu. Aku pergi meninggalkan dan pergi ketaman itu. Ku buka perlahan surat itu, dengan air mata yang masi berlinang dipipiku.
untuk mu!  J

Hey yo! Kalau baca surat ini berarti aku udah gak ada lagi disini. Berarti aku udah ga tau dimana sekarang.
Aku bingung mulai dari mana, gmana kalau awal kita bertemu,
Mass In B Minor, ingat? Itu lagu yang selalu aku main kan. Aku ingat canda tawa ,tangisan mu, air mataku, tak ku sesali. pelukan mu, amarahmu, pengorbananmu, takkan ku ganti, semua yang harus kita alami, membuat kita tuk saling mengerti...
Karena aku cinta kamu, karena aku butuh kamu, dan aku ingin kamu, disisiku.
Keangkuhan tak buat mu tuk jadi ragu, sayangi ak. Kaumemebrikan arti berharga disisa hidup ku, aku ga bsa kuat sendri, namun dengan mu itu berbeda, semua kata-kata kita , semua omong kosong yang kita lakukan. aku inget hal gila yang kita lakukan. sialnya, kamu membuat aku tidak ingin meninggalkan mu walau ku tau ku tak bisa. tawa yang kita lakukan , semua yang kamu katakan, masih mengingat di kepala ku, sayang kamu tau kamu itu alasan kenapa aku masih hidup, aku inget saat kamu mengejutkan ku, aku inget saat kita menunjuk bintang-bintang , aku inget janji dan harapan yang kita buat. inget ga kita bernyanyi di bulan desember? ya aku masih inget, janji yang kita buat antra kamu dan aku. aku juga inget apa sepatu mu, aku inget kopi yang slalu kita minum. sesuatu di matamu , membuat ku kehilangan diriku, sesuatu di suaramu membuat ku tenang, kamu tak selalu disini, ketika aku terbangun dari komaku, ak ingin kamu berada disini, tapi aku gak bisa, kamu punya kehidupan sendiri. kamu telah menunjukan jalan pada ku, dan aku yang harus menjalankan nya, kamu datang membawa cinta, aku bisa melihat mu saat kamu ga disini, aku juga bisa merasaknnya saat kamu ga disini, kamu datang dan membuatku tak pernah merasakan kesendirian , mungkin kamu datang membawa kehidupan baru bagiku. aku selalu menunggu mu sampai kamu ada disni disamping ku ,dan jika suatu saat kamu menemukan penggantiku , aku pinta coba lah mengingat kenangan kita sesekali saja, kamu orang yang baik. Makasih ya , salam cinta untukmu, dan semua takkan sama lagi.

Bertanda cindy.
Aku terdiam diam bersama kenangan itu…

Empat tahun kemudian

Aku kembali ke Indonesia, aku telah menyelsaikan kuliahku di luar negri. Aku kembali ketaman itu, aku duduk di tempat yang sama yang pernah kita duduki.
I thought that with time I'd forget about you. But I was wrong: it's bern year and you still linger my every thought.

Aku ingat air mata mengalir di wajahmu, Ketika aku katakan, aku tidak akan membiarkan kamu pergi. Ketika semua orang bayangan hampir membunuh cahayamu.  Tapi semua itu sudah mati dan pergi dan berlalu. Tak terhitung masa-masa yang telah terlewati, Seberapa besarkah aku sungguh- sungguh mengenal dirimu? Tak sesederhana menyusuri selembar peta dengan jarimu. Aku tahu engkau sedang mencoba menyembunyikan raut kegelisahanmu. Seolah melawan hari esok yang kian mendekat. Aku berjalan di sekitar, masih saja ia berupa ketakjuban, betapa hatiku penuh akan dirimu. Jika aku menengadah, gemerlapan meluap-luap, tak akan pernah memudar. Andai aku dapat seperti matahari yang selalu bersinar cemerlang. Aku ingin didekap dalam keharumanmu, hanya untuk beberapa saat lagi. Terenggut oleh kerah bajuku keluar menuju udara, aku berbalik. Remang, desau putih menandakan berlalunya musim. Berulang terus dan terus, tiba-tiba membuatku bertanya, mengapa aku di sini? Aku ingin duduk di sampingmu, selamanya memandangi senyumanmu.  Ingin tinggal di sepasang mata itu dan merasakan berbagai untaian peristiwa. Seperti pemandangan lembut terlukis dalam keindahan rangkaian warna. Aku ingin menghentikan waktu selamanya. Aku ingin duduk di sisimu, selamanya melihat senyummu. Ingin tinggal di sepasang mata itu dan melewati berbagai untaian peristiwa. Andaikan suatu hari aku dapat membawamu ke musim yang terang benderang. Menuju bunga-bunga yang bermekaran di langit bagaikan salju.  Menuju bunga. ketika hati ini tetap kan pilihan , adakah kuasa diri ter abaikan? Meski waktu datang dan berlalu kw takkan rdup dan terganti untuk saat ini. Cindy makasih untuk 3 bulan penuh arti . Dan aku tau jawaban sampai kapan kita bersama? Kita akan slalu bersama, di dalam doa dan tidur ku, ketika Tuhan mengambil orang yang aku sayangi , pasti akan ada orang yang datang dan lebih sayang sama ku! Dan aku percya itu.
        " hey!" Suara yang gak asing lagi , air mataku berlinang begitu saja . " anastasya?" Aku masih tidak tahan untuk melihat nya.  " akhirnya kamu kembali yo! Penantian selama empat tahun akhirnya terjawab, penantian cindy juga terjawab. Jangan pergi lagi ya !" Dia menangis langsung memeluk ku. Pelukan hangat yang hilang sejak cindy pergi, tanpa pikir panjang aku peluk dia.  Setiap orang punya kisahnya masing-masing , setiap orang juga punya orang yang Tuhan kirim untuk melengkapi hidupmu. Dan mungkin dialah orang yang dikirim Tuhan, pengganti Cindy.
Namaku Dave dan inilah kisahku.